Fenomena Cemaran Pangan di Indonesia

Pangan merupakan kebutuhan utama untuk kehidupan makhluk hidup termasuk manusia di dalamnya. Pangan yang baik untuk kesehatan adalah pangan yang mengandung gizi, bebas dari berbagai macam bahaya (mikrobiologis, fisik, kimia), dan memenuhi fungsi-fungsi dalam menjaga kelangsungan hidup manusia. Namun ternyata dalam proses produksi maupun distribusi tidak jarang terjadi penurunan kualitas pada pangan melalui cemaran pangan (food adulteration).

Food adulteration menurut US-FDA ialah suatu kondisi dimana terdapat penambahan bahan lain yang dapat menurunkan kualitas dan menimbulkan bahaya pada produk pangan, penggunaan bahan tambahan yang mirip atau lebih rendah mutunya untuk mengantikan secara keseluruhan atau sebagian pada pangan, mengandung substansi tambahan yang membahayakan kesehatan, dan terdapat pemalsuan misalnya pewarnaan, ataupun penambahan atau penghilangan sesuatu pada produk pangan.

Pemerintah Indonesia sebenarnya telah mengeluarkan berbagai regulasi atau peraturan untuk mencegah terjadinya berbagai pelangaran pada produk pangan yang dapat merugikan kesehatan yang salah satunya cemaran pangan (food adulteration) ini. Pemerintah telah mengeluarkan UU RI No 7 tahun 1996 tentang pangan, PP RI No 69 tahun 1999 tentang label dan iklan pangan, PP RI No 28 tahun 2004 tentang keamanan, mutu, dan gizi pangan, juga UU RI No 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen.

Walaupun demikian, masih banyak ditemukan adanya kasus cemaran pangan di Indonesia. Kasus-kasus tersebut terjadi di masyarakat dan telah menjadi hal biasa dan banyak diikuti oleh produsen atau distributor pangan. Beberapa kasus diantaranya adalah:

Kasus Formalin yang dijadikan pengawet

Formalin merupakan zat pengawet terlarang yang paling banyak disalahgunakan untuk produk pangan. Zat ini termasuk bahan beracun dan berahya bagi kesehatan manusia. Jika kandungannya di dalam tubuh tinggi, akan bereaksi secara kimia dengan hampir semua zat di dalam sel sehinga menekan fungsi sel dan menyebabkan matinya sel yang menyebabkan keracunan pada tubuh.

Berdasarkan hasil pengujian balai besar POM di Jakarta (November-Desember 2005), terdapat 98 sampel produk pangan yang dicurigai mengandung formalin dari pasar tradisional dan supermarket, 56 dinyatakan positif mengandung formalin.  Didapatkan dara juga bahwa dari hasil pengujiam sampel mie basah 65 % positif mengandung formalin, 41 sampel tahu 46,3 % positif formalin, 34  sampel ikan asin 64,7 % tercemar formalin. Kasus-ini telah melanggar UU No 7 tentang pangan, PP No 28 tahun 2004 tentang keamanan dan mutu gizi pangan, UU No 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen.

Kasus Beras Oplosan

Beras oplosan merupakan pemalsuan pelabelan beras dimana beras yang terdapat pada karung tidak sesuai dengan yang disebutkan pada labelnya, misalnya beras bulog dicampur denagn beras pandan wangi dengan persentase masing-masing kemudian diklaim dengan label beras pandan wangi dan dijual dengan harga tinggi.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB,dari 9 merek beras pandan wangi yangberedar di pasaran rata-rata kandungan pandan wnginya hanya sekitar 25-30 %. Kasus beras oplosan ini telah melanggar UU No 7 tahun 1996 tentang pangan, UU No 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen, dan PP No 69 tahun 1999 tentang label dan ikan pangan.

Kasus Pemalsuan Air Galon

Pemalsuan air galon merupakan tindakan pemalsuan label dan merek perusahaan lain. Tindakan ini mudah untuk dilakukan sehingga air kemasan diisi oleh produsen dengan menggunakan label palsu untuk menyerupai perusahaan yang telah terkenal kemudian dijual dengan harga tinggi. Tindakan ini melanggar UU No 7 tahun 1996 tentang pangan, UU No 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen, dan PP No 69 tahun 1999 tentang label dan ikan pangan.

Kasus Terigu Impor Yang Tidak Memenuhi Standar dan Pemalsuan

Kasus ini banyak terjadi di Indonesia, data menunjukan di Lampung tahun 2002 didapatkan terigu dengan merek Lencana Merah (Bogasari) tetapi isinya adalah terigu impor yang dilarang beredar. Di solo september 2002 terjadi kasus pengoplosan terigu merek lain (seperti Janoko) dan dimasukan ke dalam kemasan sak merek lain seperti Gunung Bromo, Kereta Kencana, Semar (Bogasari).

Ditemukannya terigu impor merek Premium Bran (Uni Emirat Arab), Surya dan Sun Flower (India), Gem of the West (Australia), Three Horse (India)yang tidak memenuhi SNI dan kondisi fisik berkutu serta berulat yang rencananya terigu-terigu ini akan dioplos dengan merek lain. Kasus-kasus tersebut melanggar UU No 7 tahun 1996 tentang pangan, UU No 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen, dan PP No 69 tahun 1999 tentang label dan ikan pangan.

Kasus Penjernihan Minyak Jelantah dengan Hidrogen Peroksida

Tingginya harga minyak goreng akhir-akhir in membuat banyak oknum produsen melakukan tindakan membodohi masyarakat. Minyak jelantah yang telah rusak dibuat kembali menjadi minyak yang secara fisik tampilannya baik. Tindakan pemalsuan ini dilakukan dengan memanaskan minyak jelantah sampai mendidih kemudian ditambahkan hidrogen peroksida sehingga warnanya menjadi jernih, kemudian minyak itu dijual kembali dengan klaim minyak baru. Tindakan ini melanggar UU No 7 tahun 1996 tentang pangan, UU No 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen, dan PP No 28 tahun 2004 tentang keamanan, mutu, dan gizi pangan.

Kasus Pengoplosan minyak goreng dengan oli mesin / Kendaraan bekas

Selain kasus penjernihan dengan hidrogen peroksida, adalagi tindakan nekat dari produsen yaitu pengoplosan minyak goreng dengan oli kendaran bermotor bekas. Dengan perbandingan tertentu oli dan minyak diopolos dan diberi perlakuan lebih lanjut sehingga penampakannya seperti minyak asli. Dengan melakukan tindakan ini produsen nakal tersebut mampu meningkatkan keuntungannya

Tindakan ini akan menimbulkan dampak serius bagi kesehatan manusia karena dalam oli bekas kendaraan tersebut terdapat berbagai zat yang membahayakan bagi tubuh manusia. Tindakan ini melanggar UU No 7 tahun 1996 tentang pangan, UU No 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen, dan PP No 28 tahun 2004 tentang keamanan, mutu, dan gizi pangan.

Kasus Pencampuran Plastik pada Minyak Goreng Saat Mengoreng

Ada lagi tindakan Gila dari oknum produsen makanan yang sangat meresehkan dan membahayaan, yaitu tindakan pencampuran plastik pada minyak goreng sat melakukan penggorengan pada makanan. Tindakan gila ini akan menghasilkan produk gorengan yang lebih renyah dan kerenyahannya akan bertahan lama. Namun tindakan ini akan mendatangkan bahaya yang besar bagi konsumen, karena plastik mengandung monomer-monomer yang berbahaya bagi tubuh manusia dan sangat sulit sekali dihancurkan oleh tubuh. Tindakan ini melanggar UU No 7 tahun 1996 tentang pangan, UU No 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen, dan PP No 28 tahun 2004 tentang keamanan, mutu, dan gizi pangan.

Berbagai kasus food adulteration yang terjadi menunjukan belum tegasnya sanksi peraturan-peraturan pemerintah. Kasus-kasus ini menyebabkan mutu produk pangan menurun bakan dapat membahayakan bagi kesehatan manusia.  Oleh karena itu diperlukan penerapan regulasi yang telah diterapkan secara tegas, konsumen pun harus lebih kritis dalam membeli produk pangan, serta diperlukan adnya peran serta aktif dari para sarjana maupun pakar teknologi pangan untuk melakukan edukasi dan tindakan nyata lainnya.

Posted on September 7, 2010, in Pertanian dan Teknologi Pangan. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

PradanaNusantara

writing is an art of giving

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

a journey to live a personal legend

But the secret in life is to fall seven times, and rise up eight times

rossaochana

Just another WordPress.com site

Wonojatun - weje26

Saya menulis ketika ingin dan tak ingin, menerjemahkan rasa pada deretan kata.

Jejak Hidayat Nur Wahid

Manusia biasa dihadapan-Nya

Catatan Pemikir Bodoh

krauk-krauk, nyam-nyam...^^

Ladang Pikiran

Learn | People | Nation | Travel | Hobbies | Economics | Agriculture | Insight | Photography | Journey | Personal Life | Thought

dinie hz

ada ilmu yang disimpan dan dibagikan di sini

Cerita Mitra Masyarakat Mandiri

Empowerment l Synergy l Partnership

iko15

Just another WordPress.com site

Ahmadchairullah's Blog

Just another WordPress.com site

Akusmayadi's Weblog

Just another WordPress.com weblog

pelukissenja

Just another WordPress.com site

Anriani's Blog

Just another WordPress.com site

Ginantaka's Blog

Just another WordPress.com site

Hidayat Wali

think globally, act locally, seem ecologically

gmjeep

Just another WordPress.com site

Ariawiyana

Lihat, Dengar, Rasakan

Hendra EG "BAMaker" #BangkitMaju #BAMovement

Inspirator #BangkitMaju yang sarat pengalaman lapangan. Lantang berbicara, sebagai perpaduan akademisi dan praktisi. Menginspirasi dari kisah nyata kehidupan pribadinya. Hendra EG "BAMaker" siap membangunkan anda untuk BANGKIT dan MAJU menjadi lebih baik. Follow @HendraEG

%d bloggers like this: