Keluarga yang berkumpul di syurga

“Dan orang-orang yang beriman serta anak cucu mereka yang mengikutinya dalam keimanan, kami akan kumpulkan (di Surga) bersama anak-cucu mereka” QS At-Thuur : 21.

Pada suatu kesempatan, Nabi saw menasihati putri kesayangan beliau yang bernama Fathimah. “Wahai Fathimah binti Muhammad, beramallah untuk bekal (akhirat)-mu. Karena aku (Nabi saw) tidak akan bisa menolong engkau sedikitpun di akhirat nanti,” tegas Rasulullah saw.

“Subhaanallah,” begitulah nasihat Nabi saw untuk Fathimah. Dan memang orangtua tidak dapat memberikan garansi kepada anak-anaknya, kecuali sang anak mau berupaya menggapai surga itu.

Perhatikanlah apa yang terjadi pada Nabi Nuh as. Beliau berpisah dengan sang anak, lantaran si anak tidak mau mengikutinya beriman. Bahkan ketika air banjir bandang datang, ketika sang anak timbul tenggelam dipermainkan gelombang air bah, sebagai ayah, Nuh as tidak tega melihatnya. Dan diapun berdoa:  Continue reading

Advertisements

Sajak Kehidupan

Ketika masih muda, kita cari harta dengan mengorbankan kesehatan.

Ketika tua kita cari kembali kesehatan dengan mengorbankan harta.

Akhirnya yang kita dapati hanya sepetak tanah dan batu nisan.

Karena yang kau miliki hanya hak pakai saja di dunia dan tidak bisa dibawa ke akhirat.

Lalu apa yang dinamakan kebahagiaan? Padahal surga jelas- jelas sebaik-baiknya tempat kembali.

Tentang Kepemimpinan

Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya.

Pemimpin negara yang berkuasa atas manusia adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang kepemimpinannya

Seorang lelaki/suami adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan ditanya tentang kepemimpinannya

Wanita/istri adalah pemimpin terhadap keluarga suaminya dan anak-anak suaminya dan ia akan ditanya tentang mereka

Budak seseorang adalah pemimpin tarhadap harta tuannya dan ia akan ditanya tentang harta tersebut

Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya.

(HR Bukhari)

Nasihat Ali Bin Abi Thalib kepada anaknya.

Hai anakku, jagalah empat perkara yang tidak akan membahayakanmu selama engkau mengamalkannya:

Sebaik-baiknya kekayaan adalah akal, seburuk-buruknya kefakiran adalah kebodohan, sejelek-jeleknya kedengkian adalah kesombongan, dan seagung-agungnya perbuatan adalah akhlak mulia.

Hai anakku, jauhilah pergaulan dengan orang bodoh, karena ia akan memanfaatkanmu dan membahayakanmu.
Jauhilah orang bakhil karena ia akan menjauhkanmu dari hajatmu.
Jauhilah pezina karena ia akan menjualmu dengan murah.
Dan jauhilah pendusta karena ibarat fatamorgana ia akan menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh.